Selasa, 24 September 2013

UJI EFEKTIVITAS PENGAWET PADA SEDIAAN KRIM TERSTANDARISASI TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI PENYEBAB INFEKSI KULIT

ABSTRAK
HAERIYAH NOVI ANTI Uji Efektivitas Pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit”, (dibimbing oleh Jumain, Hj. asmawati, dan Ajeng Kurniati R).

Telah  dilakukan penelitian mengenai Uji Efektivitas Pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk untuk menentukan kosentrasi yang tepat pengawet sediaan krim yang dapat menghambat pertumbuhan  bakteri.
Sediaan krim dibuat konsentrasi masing-masing 1%, 1,5% dan 2,5%, dan kontrol negative sediaan krim. Pengujian aktivitas bakteri yang dilakukan dengan menggunakan metode difusi agar berlapis untuk menentukan diameter hambatan terhadap bakteri penyebab infeksi kulit dengan menggunakan piperdisk pada medium Natrium Agar (NA). Setelah inkubasi 1 x 24 jam didapatkan zona hambatan yang paling kecil adalah sediaan krim A pada konsentrasi 1% rata-rata diameter hambatannya 5,59 mm, dan sampel yang memilki diameter zona hambatan paling tinggi adalah pada sediaan krim B konsentrasi 2,5% rata-rata diameter zona hambatannya 12,22 mm. sedangkan untuk kontrol negative tidak terdapat zona hambatan. Berdasarkan hasil penelitian sediaan krim yang beredar di Kota Makassar memiliki kandungan pengawet yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi kulit.

Kata kunci : Uji efektivitas, Pengawet, bakteri penyebab infeksi kulit


ABSTRACT


NOVI HAERIYAH ANTI "Preservative Effectiveness Test In Preparation Against Standardized Cream Cause Skin Infections Bacterial Growth", (guided by Jumain, Hj. Asmawati, and Maya Kurniati R).

Has done research on Preservative Effectiveness Test In Cream Standardized preparations on growth of bacteria causes skin infections. The purpose of this study was to determine the concentration of the right to a preservative preparation creams that can inhibit the growth of bacteria.
Cream preparation made ​​each concentration of 1%, 1.5% and 2.5%, and a negative control cream preparation. Bacterial activity assays performed using the agar diffusion method for determining the diameter layered barrier against bacteria that cause infections of the skin using the medium piperdisk Sodium Agar (NA). After incubation of 1 x 24 hours obtained the smallest inhibition zone is a cream preparation at a concentration of 1% on average obstacle diameter 5.59 mm, and the samples have the highest inhibition zone diameter is the cream preparation B concentration of 2.5% average The average diameter of 12.22 mm resistance zone. whereas for negative controls contained no inhibition zone. Based on the research results of outstanding cream preparation in Makassar contains preservatives that can inhibit the growth of bacteria that cause skin infections.

Keywords: Test effectiveness, preservatives, bacteria that cause skin infections

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak sediaan farmasi bahkan bahan-bahan  bakunya yang sering kita komsumsi. Dan tanpa kita sadari banyak mikroorganisme yang ada dilingkungan disekitar kita yang dapat menguraikan  baha makanan, minuman dan sediaan farmasi lainnya seperti obat tradisional lainnya dan kosmetika sehingga dapat menyebabkan penyakit bagi yang mengkomsumsinya. Sering kita beranggapan  bahwa  makanan, kosmetik dan obat tradisional yang ada disekitar kita bahwa bahan tersebut bebas dari miroba padahal anggapan itu belum tentu benar tanpa dilakukan pengujian mikroba (Djide N, 2008).
Salah satuh cara untuk mempertahankan stabilitas suatu bahan atau produk yaitu dengan penmabahan bahan pengawet. Pengawetan pada dasarnya adalah tindakan untuk memperkecil atau menghilangkan faktor-faktor  penyebab kerusakan yang terjadi pada bahan dan produk. Pengawetan dapat dilakukan untuk menghambat terjadinya kerusakan sehingga memperpanjang  umur simpan bahan maupun produk. Beberapa metode pengawetan dapat memperpanjang umur simpan produk hingga  beberapa bulan bahkan tahun. Namun dengan pengawetan dapat terjadi perubahan nilai gizi dan organoleptik suatu bahan atau produk (Sefran, 2012).
Banyak metode pengawetan yang dapat dilakukan antara lain, yaitu dengan mengontrol kontaminasi mikroba dan pertumbuhannya, menurunkan laju reaksi enzimatik, menurunkan laju reaksi kimia, melindungi dari serangan tikus ataupun serangga, serta melindungi dari pengaruh lingkungan seperti kelembapan (Rh), oksigen, dan sinar UV.
Untuk melakukan metode-metode tersebut, ada beberapa teknik yang bisa ditempuh antara lain melalui pengolahan suhu tinggi, penyimpanan suhu rendah, pengurangan kadar air, irradiasi,  fermentasi, pengasapan dan curing, penggunaan bahan pengawet kimia dan pengemasan yang melindungi. Pengawetan umumnya  tidak selalu merubah bentuk bahan pangan, karena pengawetan bahan pangan ada yang mampu mempertahankan kondisi bahan relative tetap, misalnya dengan disimpan dalam suhu rendah, atau melalui irradiasi. Beberapa metode pengawetan yang banyak diaplikasikan di industri  antara lain pengawetan dengan penyimpanan pada suhu rendah, pengawetan dengan bahan pengawet kimia, penggunaan suhu tinggi, penurunan aktivitas air, dan penggunaan kemasan yang baik (Sefran, 2012).
Berdasarkan hal tersebut  diatas, maka krim berpotensi memiliki bahan pengawet yang juga berfungsi sebagai anti mikroba.
Adapun masalah yang timbul yaitu apakah sediaan krim yang mengandung bahan pengawet dapat menghambat pertumbuhan bakteri infeksi kulit.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kosentrasi yang tepat pengawet sediaan krim yang dapat menghambat pertumbuhan  bakteri.
Manfaat penelitian ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat tentang adanya bahan pengawet yang terdapat dalam sediaan krim yang dapat menghambat  pertumbuhan bakteri penyebab inveksi kulit dan sebagai bahan pertimbangan bagi industri kosmetik agar dalam penggunaan pengawet pada sediaan kosmetik lebih di pertimbangkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.     Uraian Tentang Pengawet (Subagja. R. 2012)
Bahan pengawet adalah bahan tambahan yang sering digunakan pada obat, makanan, kosmetika dan bahan alam. dengan tujuan untuk memperpanjang masanya tetapi tidak untuk tujuan menutupi keburukan sediaan tersebut (BPOM RI 2008).
Bahan pengawet yang dipakai dapat berupa bahan alam atau bahan sintesis/kimia. beberapa contoh bahan pengawet alam adalah kunyit, jahe, laja. sedangkan bahan pengawet sintesis yaitu : senyawa benzoat, sorbat, nipagin, dan masih banyak yang lain.
Pemilihan bahan sebagai pengawet sangat tergantung dari sifat fisika dan kimia sediaan yang akan di awetkan dan tujuan penggunaan pengawet tersebut, sehingga jenis dan jumlah yang digunakan dapat bervariasi. misalnya penggunaan benzoat untuk minuman ringan, yang diijinkan adalah tidak boleh lebih dari 500 mg/kg.  semua ini diatur oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, melalui PerMenKes RI. No.722/MenKes/Per/88 yang telah direvisi pada tahun 2001. Diharapkan melalui cara ini penggunaan bahan pengawet pada semua sediaan dapat diawasi dengan ketat.
Untuk dapat mengefektifkan penggunaannya, Farmakope Indonesia Edisi IV telah memuat metode uji mikrobiologinya. cara ini diharapkan dapat membantu menentukan jenis dan jumlah bahan pengawet yang tepat untuk di gunakan pada sediaan uji (Subagja. R. 2012).
B.     Uraian Tentang Krim (Lachman,1994 dan Strober BE, Washenik K, Shupack JL. 2008)
1.     Definisi Krim.
 Krim adalah bentuk sediaan setengah padat, mengandung satu atau lebih obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasikan sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air.
 Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan dapat ditujukan untuk pemakaian kosmetika dan estetika. Krim dapat juga digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal.
2.    Tipe-tipe Emulsi.
Ada 2 tipe krim yakni tipe (M/A) dan tipe (A/M). Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki. Untuk krim tipe A/M digunakan sabun polyvalen, span, adeps lanae, koleterol dan cera. Sedangkan untuk krim tipe M/A digunakan sabun monovalen seperti trietanolagmin, Nutrien stearat, kalium stearat dan amonium stearat. Selain itu juga dapat dipakai tween , Nutrien laurylsulfat, kuning telur, gelatinum, caseinum, CMC, dan emulgidum.
Kestabilan krim akan terganggu / rusak jika sistem campurannya terganggu, terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi yang disebabkan perubahan salah satu fase secara berlebihan atau zat pengemulsinya tidak tercampur satu sama lain.
Pembuatan krim adalah dengan melebur bagian berlemak diatas penangas air, kemudian tambahkan air dan zat pengemulsi dalam keadaan sama-sama panas, aduk sampai terjadi suatu campuran yang berbentuk krim (Sharma S. 2008).
C.      Uraian tentang Kulit
Kulit adalah organ yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1,5 m2  dengan berat kira-kira 15% berat badan. Kulit merupakan  organesensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan (Djuanda, 1999).
Bila suatu sistem obat digunakan secara topikal, maka obat akan keluar dari pembawanya dan berdisfusi kepermukaan jaringan kulit. Ada tiga jalan masuk yang utama: melalui daerah kantung rambut, melalui kelenjar keringat, atau melalui stratum korneum yang terletak diantara kelenjar keringat dan kantung rambut. Hanya ada beberapa fakta yang kurang meyakinkan bahwa kelenjar endokrin mempunyai peranan yang berarti pada permeabilitas kulit.  Bahan-bahan dapat memasuki pembuluh-pembuluh dan bahkan kelenjar-kelenjar, tetapi tampaknya tidak ada penetrasi dari daerah ini (Lachman, 1994).

Gambar 1 . Jalur penetrasi sediaan topical (Cross S, Robert
                     M. 2008).
Untuk zat-zat yang diabsorbsi secara transpidermis, penetrasi berlangsung agak cepat, meskipun masih lebih lambat dari pada absorbsi oleh saluran cerna dan hampir selalu disertai oleh beberapa tahap penetrasi pilosebaseus. Untuk zat-zat yang diabsorbsi melalui kedua jalan itu, rute transpidermal adalah jalan masuk yang utama karena jumlah permukaan absorbsi oleh unit-unit pilosebaseus relatif kecil. Absorbsi pada luas permukaan epidermis 100 sampai 1000 kali lebih besar dari rute-rute absorbsi lainnya. Bagian-bagian tubuh kelenjar keringat dan kantung-kantung rambut tersebar diseluruh kulit dalam jumlah yang bervariasi, tetapi termasuk jarang, jumlah daerah yang dilaluinya mungkin antara 0,1 sampai 1 % dari luas kulit (Lachman, 1994).
D.   Uraian Tentang Staphylococcus epidermis
1.     Klasifikasi bakteri
Domain   : Bacteria
Kerajaan : Eubacteria
Filum                       : Firmicutes
Kelas                       : Cocci
Ordo                       : Bacillales
Family                     : Staphylococcaceae
Genus                     : Staphylococcus
Spesies   : Staphylococcus epidermis (Rosenbach, 1884)
2.     Sifat dan Morfologi Staphylococcus epidermis
Staphylococcus epidermis adalah mikroorganisme yang sangat kuat, yang terdiri dari nonmotile, Gram positif cocci, berbentuk anggur seperti cluster. Membentuk putih, mengangkat koloni sekitar 1-2 milimeter dengan diameter setelah inkubasi semalam, dan nonhemolytic pada agar darah. Merupakan  katalase  positif, koagulase -negatif, fakultatif anaerob yang dapat tumbuh dengan respirasi aerobik atau oleh fermentasi .Beberapa strain mungkin tidak fermentasi. (Bukhari M, 2004; Wikipedia 2012)
Uji biokimia menunjukkan mikroorganisme ini juga memiliki reaksi lemah positif terhadap uji reduktase nitrat . Tetapi positif untuk urease produksi, oksidase negatif, dan dapat menggunakan glukosa, sukrosa, dan laktosa untuk membentuk produk asam. Dengan adanya laktosa, juga akan menghasilkan gas. Staphylococcus epidermis tidak memiliki  gelatinase enzim, sehingga tidak dapat menghidrolisis gelatin. Hal ini sensitif terhadap  Novobiocin , memberikan tes penting untuk membedakannya dari  Staphylococcus saprophyticus , yang merupakan koagulase-negatif
Mirip dengan Staphylococcus aureus , dinding sel dari Staphylococcus epidermis memiliki protein transferin yang mengikat yang membantu organisme memperoleh besi dari transferin . Para tetramers dari dehidrogenase permukaan terbuka protein, gliseraldehida-3-fosfat, diyakini mengikat transferin dan menghapus besi. Langkah-langkah berikutnya termasuk besi yang ditransfer ke permukaan lipoprotein, maka untuk mengangkut protein yang membawa besi ke dalam sel.
E.     Uji Mikrobiologi (Risco gobel, 1991)
Dikenal beberapa pengujian secara biologis, terhadap daya mikroba dari bahan-bahan kemoterapeutik seperti antibakteri,antiseptik dan desinfektan. Umumnya pengujian mikrobiologis dilakukan terhadap kebanyakan antimikroba. Terhadap cara pengujian ini dapat dipakai untuk bahan-bahan lain yang mempunyai kemampuan menghambat dan membunuh mikroorganisme. Cara pengujian efektifitas antimikroba dalam hal ini adalah metode difusi.
Pada metode ini kemampuan antibakteri atau mikroba ditentukan berdasarkan luasnya daerah penghambat yang tertentu. Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara:
a.    Cara difusi dengan plat selinder
Cara ini berdasarkan atas perbandingan antara daerah hambatan yang dibentuk oleh larutan contoh terhadap pertumbuhan dari mikroba dengan daerah hambatan yang terjadi oleh larutan contoh dimasukkan kedalamnya.
b.   Cara difusi dengan plat mangkuk
      Prinsip ini cara kerjanya sama dengan plat silinder. Perbedaanya adalah pada cara ini mengunakan alat berupa cup platte yaitu  lubang atau semacam mangkuk yang diletakkan diatas medium.
c.   Cara difusi dengan kertas saring
Perbedaan dari kedua cara diatas menggunkan kertas saring yang dibuat dengan bentuk dan ukuran tertentu, Biasanya berbentuk bulat dengan diameter 7-10 mm. Cara ini cepat dan prektis serta alat yang digunakan sederhana. Pengamatan setelah masa inkubasi dengan melihat daerah hambatan yang terjadi.

d.   Cara difusi Kirby-bauer
Cara ini menggunkan kertas saring dan cawan Petri yang digunakan berukuran 150 x 15 mm sehingga langsung dapat diuji dengan konsentrasi larutan contoh.
e.    Cara difusi agar berlapis
Cara ini merupakan  suatu modifikasi cara Kirby-bauer. Perbedaannya pada cara ini menggunakan dua lapisan agar, lapisan dasar (Base layer) dan lapisan atas (seed layer) mengandung mikroba.
F.     Uraian Bahan
1.    Air Suling (Depkes RI, 1979)
                Sinonim                                  : AQUA DESTILLATA
Rumus Molekul                      : H2O
Berat Molekul                         : 18,02
Pemerian                                                : Berupa cairan jernih, tidak berwarna,  
                                                                   tidak  berbau, tidak mempunyai rasa.
                                                    Kegunaan                                               : Sebagai pelarut.
2.    Setil Alkohol (DITJEN POM, 1979)
                Sinonim                                  : Alcoholum cetylicum
                Berat Molekul                         : 242,44
                Pemerian                                                : Serpihan putih licin,granul, atau kubus,  
                                                                                    putih, bau  khas lemah,rasa lemah. 
                Kelarutan                                                : Tidak larut dalam air, larut dalam
                                                                                    etanol dan dalam eter, kelarutan
                                                                                    bertambah dengan naiknya suhu.
Kegunaan                                               : Sebagai Penambah viskositas.
3.    Garnier(Eldhieya. 2011)
Garnier adalah skin care untuk wajah berkulit kusam, tidak bercahaya, dan punya beberapa bintik cokelat. Garnier Light juga cocok bagi mereka yang mendambakan kulit lebih putih dan terawat, ingin mempertahankan kulitnya yang putih, serta ingin warna kulit yang merata. Garnier mengandung pure lemon essence, yaitu kombinasi dari sari lemon asli dan vitamin C, yang berfungsi untuk mengangkat sel kulit mati, membuat kulit menjadi bercahaya, dan mempertahankan kandungan vitamin C di dalam kulit. Selain itu, Garnier juga mengandung bahan aktif Long Dan. Bahan aktif Long Dan adalah akar-akaran yang berasal dari negeri Cina, yang aktif untuk mencerahkan warna kulit, mengatur produksi melanin, serta mencegah penyebaran flek. Garnier juga mengandung SPF 15 yang dapat melindungi kulit dari sinar matahari  sebanyak 15 kali lipat.
Produk Garnier Light terdiri dari:
1.    Light Gentle Clarifying foam (100 ml, 50 ml) Foam yang berfungsi untuk membersihkan wajah, mengangkat sel kulit mati, dan membersihkan make up. 
2.    Light Milky Lightening Dew (Toner) Toner dengan tekstur milky yang berfungsi untuk mengangkat sel kulit mati, mencerahkan sel kulit kusam, dan menyegarkan kulit wajah.
3.    Light Whiten and Protect Moisturizer cream SPF 15 (cream 50m dan 20 ml) Krim yang mengandung SPF 15, ditujukan bagi kulit wajah yang normal. Cream ini berfungsi untuk mencerahkan kulit wajah yang kusam, menghilangkan spot atau flek cokelat, dan melindungi kulit wajah dari sinar UV.
4.     Light Complete Multi-action Whitening cream Krim yang mengandung Salicylic Acid Derivative yang berfungsi untuk mengontrol minyak agar tidak berlebih sehingga kulit terlihat bebas kilap hingga 8 jam, menyamarkan bintik hitam dan bekas jerawat, serta membunuh bakteri penyebab jerawat. Light Complete Multi-action Whitening cream ini ditujukan bagi kulit wajah yang normal dan agak berminyak.
5.     Light 24 H programKrim pagi dan malam untuk perawatan intensif untuk  warna kulit lebih cerah.
6.     Light Brightening Scrub (100 ml, 50 ml)
Scrub dengan micro beads lembut, yang membantu mengangkat sel kulit mati dan komedo, serta mencerahkan sel kulit kusam. Gunakan scrub ini satu kali dalam 3 hari.


7.     Light Dark Spot Corrector Pen
Berfungsi untuk menghilangkan noda hitam di wajah. Aplikasikan hanya pada daerah yang bermasalah.
8.     Eye Roll–On Merupakan satu-satunya eye roll-on yang ada saat ini. ERO mengandung caffeine yang membantu melancarkan sirkulasi peredaran darah, membuat mata segar, dan kulit terlihat cerah. Selain itu, terdapat juga kandungan Pro Vitamin B5 yang berfungsi  memberikan kadar air yang cukup dan juga melembabkan area sekitar mata. Gunakan ERO 5 kali dalam sehari untuk hasil yang maksimal, serta setelah menatap layar TV ataupun komputer, maka hasilnya akan terlihat setelah kurang lebih 4 minggu pemakaian.
9.     Lightening Peel-Off Mask Masker yang sangat efektif untuk membantu pencerahan kulit wajah, mengangkat kotoran dan sel kulit mati, serta membantu mengencangkan kulit wajah, yang dapat dipakai untuk semua jenis kulit (normal, kering ataupun berminyak). Masker ini berbentuk gel yang akan mengering setelah 15 menit dan mudah untuk dikelupas, lalu dibersihkan dengan air/ toner.  Gunakan 1 minggu sekali atau jika dibutuhkan.
10.   Light Whitening Infusion Tissue Mask Masker wajah berbentuk tissue yang dapat mencerahkan, memberikan kelembaban dan nutrisi pada kulit, yang cukup dipakai selama 15 menit, dan dapat dipakai untuk semua jenis kulit (normal, kering ataupun berminyak). Masker ini tidak perlu dibilas, cukup pijat sisa masker yang masih tersisa di wajah. Sekali pemakaian masker sama dengan 14 hari perawatan pencerahan.
11.   Light Face Powder Bedak yang aman untuk pemakaian sehari-hari dan untuk kulit sensitif. Bedak ini mengandung Vitamin C yang membuat kulit terlihat cerah alami, SPF 18 melindungi kulit dari sinar matahari, 100% bebas minyak, non comedogenic, non parfume, tidak menyumbat pori-pori, serta sudah diuji coba secara dermatologi. Gunakan bedak ini setelah pemakaian Light Gentle Clarifying Foam dan Light Cream SPF 15.
Garnier Pure ditujukan untuk wajah yang berminyak, berjerawat, berpori-pori besar, kulit tidak merata, kulit kemerahan karena jerawat, serta berkomedo. Garnier Pure terdiri dari bahan aktif Zinc Mineral, yang berfungsi untuk mengatur produksi minyak, Salicylic Acid, yang berfungsi sebagai anti bakteri yang mencegah pembentukan jerawat dan mengangkat sel kulit mati (yang menyebabkan kulit tersumbat), serta sari ketimun (cucumber), untuk membersihkan, menyegarkan, melembabkan, dan mengecilkan pori-pori di wajah.
Produk Garnier Pure terdiri dari:
1.     Pore Unblock Foam Untuk membersihkan wajah berminyak, berjerawat dan kulit tidak merata. Bentuknya menyerupai scrub yang halus.
2.     Pore Tightening Astringent Toner/ penyegar yang membantu mengecilkan pori-pori di wajah dan memberikan hasil yang matte (tidak mengkilap).
3.     Pure A Daily Moisturizer Pelembab yang membantu mengecilkan pori-pori di wajah dan meratakan kulit dari bekas jerawat, serta memberikan hasil yang matte (tidak mengkilap).
4.     Pure A Anti Imperfection Wash Scrub untuk kulit berjerawat dan berkomedo, dipakai 2 kali dalam seminggu.
5.     SOS Blemish Clear Pen Obat jerawat berwarna bening yang dipakai pada bagian-bagian yang berjerawat pada wajah.
6.     Pure Self-Heating Sauna MASK Bi-Dose 2 x 6ml
Masker untuk kulit berminyak, berkomedo, dan kombinasi. Masker ini membantu mengecilkan pori-pori dan menghilangkan sebum, serta komedo yang berlebihan. Bentuknya berupa pasta yang memberikan efek hangat ketika dipakai, cukup dipakai selama 2-3 menit, lalu dibilas dengan air. Dipakai 1 kali dalam seminggu atau jika dibutuhkan.
4.    Viva white (Ratukosmetik , 2010)
Krim Viva white berfungsi ganda sebagai face cleanser & masker yang diperkaya dengan ekstract yoghurt untuk menjadikan kulit tampak lebih cerah dan Ektract Aloe Vera serta D-Panthenol untuk menjaga kelembaban dan kelembutan kulit wajah.
Cara pemakaian :

Sebagai face cleanser :
Basahi wajah, keluarkan cleanser secukupnya pada telapak tangan dan busakan. Ratakan di seluruh wajah sambil dipijat perlahan. Bilas dengan air.
Sebagai masker :
Ratakan pada wajah,  hindari daerah mata. Biarkan mengering selama + 3 menit. Bilas dengan air.
Netto : 50g
5.    Sakura Cream
Cream Sakura terbuat dari Japanese Botanical Traditional Ekstrak yang berkhasiat mengatasi penuaan dini. Ekstrak bunga sakura telah terbukti mencerahkan dan menghidupkan kembali kulit mati. Perawatan Sakura Cream dipercaya dapat menenangkan masalah kulit, seperti Sinar UV, Penuaan dan Terbakar,
Cream Sakura ini terbuat dari bahan2 alami dari Jepang yang sangat lembut.
Bahan – bahan yang terkandung didalam Cream Sakura :
1.       Sakura Extract – PC = Ekstrak Buka Sakura, Mencegah kulit dari kekeringan yang menyebabkan penuaan, dan memberikan kontribusi menyatu dengan Kolagen. dan juga membantu membentuk melanin untuk wajah.
2.       Sakura Extract – B = Ekstrak Somei-Yoshino, Melindungi kulit dari kulit kasar dan terbakar, Mencegah dari produksi melanine. Bahan  ini lembut untuk kulit sensitif.
3.       Extract Sari Buah Mume = Mencegah dari penuaan yang menyebabkan kulit menguning. Melembutkan dan Me-Regenerasi kulit menjadi lebih baik.
4.       Green Tea Extract = Ekstrak Teh Hijau yang berasal dari Daun Teh Hijau ini memiliki efek Anti-Oksidan dan zat anti kerut. Dapat menutup pori2, meng-kenyal-kan dan mengencangkan kulit.
5.       Coenzyme Q10 (COQ10) = Senyawa ini dapat menetralisir radikal bebas yang masuk. Pemakaian produk yang mengandung COQ10 selama beberapa minggu dapat menyamarkan kerutan pada wajah.
6.       Extract Bengkuang (Derma White) = Bengkuang sering dipakai untuk bahan kecantikan, karena kegunaanya sebagai bahan aktif penghilang noda hitam, khususnya di bagian wajah dan mampu menghilangkan noda bekas jerawat.
7.       Jamur Lingzhi = Jamur Lingzhi merupakan jamur yg tumbuh di negara Jepang, mampu meningkatkan kegubaran tubuh/awet muda (germanium organic) melebihi khasiat ginseng 6x lipat. mampu membersihkan racun/iritasi pada wajah (polisakarida,triterpenoid). mampu meregenerasi sel-sel kulit yg tidak normal, serta antijamur,antialergi,antiradiasi.
8.       Suncreen Protection Factor 30 (SPF 30) =  mengandung titanium dioksida dan avobenzena untuk melindungi kulit dari sinar matahari yang mengakibatkan kelainan warna kulit, kerutan dan kulit menjadi kendur.
9.       Oxygen and Mineral = Membantu mempercepat penyerapan pada kulit, memberikan hasil yang maksimal.
Khasiat :
Membuat wajah menjadi Putih Merona.
Melindungi dari sinar UV.  Menghilangkan Jerawat dan Bekas Jerawat / Noda Hitam.
Mengecilkan Pori-Pori.
Mencerahkan kawasan gelap yang tidak merata.
Melembutkan dan Melembabkan kulit.
Mengencangkan dan membuat kulit kenyal.
Sehat untuk wajah.
Cara Pemakaian :
Day Cream = Dipakai tipis merata ke bagian wajah yang sudah dibersihkan, antara jam 6 pagi – 3 Siang  Night Cream = Dipakai Tipis merata ke bagian wajah yang sudah dibersihkan, antara jam 7 malam – 12 malam

Note :
Semua ream wajah tidak ada yang permanen, kecuali operasi wajah. Jadi jika mau hasil yang sangat baik dianjurkan dipakai terus. Jika anda ingin memakai bedak / tidak itu tidak masalah. Cream Sakura / semua cream wajah tidak ada yg bergaransi.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.       Jenis dan desain Penelitian
Jenis penelitian ini dilakukan secara eksperimen di laboratorium, dengan desain penelitian yaitu sampel krim yang dibuat masing-masing dengan konsentrasi 1%, 1,5% dan 2,5%  kemudian dilakukan pengujian efektifitas .
B.       Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juni tahun 2013  di laboratorium Mikrobiologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Timur Makassar.
C.       Alat dan bahan yang digunakan
Alat-alat yang digunakan adalah : Cawan PetriErlenmeyer, Gelas Ukur,  Gelas Kimia,   Inkubator,   Labu UkurOse bulat/lurus, Penangas Air,  paperdisc,   Pinset, Tabung teaksi, Rotary, Evaporator,   Timbangan Analitik,   Timbangan Kasar,
Bahan yang digunakan adalah :  Aluminium FoilAquadest, Biakan bakteri, Cetil Alkohol,  pH meter, Kertas Saring,  Krim,  Medium Nutrien Agar (NA),  Etanol, NaCl 0,9%.
D.     Prosedur kerja
1.     Pengambilan dan pengolahan sampel
a.  
21
 
Pengambilan sampel
b.   Sampel yang digunakan adalah sdiaan krim  yang beredar di kota Makassar.
c.   Sterilisasi alat
Semua alat yang berbahan gelas (cawan petrik, pperdisc) dilakukan sterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210 C selama 15 menit.  Ose bulat dipijarkan pada api langsung.
2.     Uji efektifitas sediaan krim antibakteri
a.    Pembuatan medium
Masing-masing bahan ditimbang lalu dilarutkan dalam air                suling hingga 250 ml, kemudian  dipanaskan diatas penangas air supaya larut sempurna. Lalu ukur pH-nya hingga 7,2 kemudian disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121º C selamA 15 menit.
b.    Penyiapan Bakteri Uji
1.    Peremajaan Kultur Murni Mikroba Uji
Staphylococcus epidermis diambil 1 ose dan diinokulasikan dengan cara di goreskan secara zig-zag pada medium NA miring kemudian diinkubasi dalam incubator pada suhu 37oC selama 24 jam.
2.     Pembuatan Suspensi Bakteri Uji
Bakteri hasil peremajaan diambil 1 ose lalu disuspensikan dengan 3 ml larutan fisiologis NaCl 0,9% lalu dihomogenkan.

3.     Pengenceran krim
Dibuat pengenceran krim untuk uji formula kontrol dan formula konsentrasi 2 dengan cara ditimbang 2 gram krim kemudian  ditambahkan  air suling sebanyak 10 ml ke dalam wadah, dikocok hingga homogen atau terdispersi. Cara yang sama dilakukan untuk pembuatan pengenceran krim dengan konsentrasi 4 dan 6.
4.     Pengujian sampel terhadap bakteri uji
a.       Media Nutrien Agar dituang secara aseptis kedalam cawan petri steril sebanyak 10 ml dibiarkan membeku sebagai lapisan dasar (base layer)
b.       Setelah itu disiapkan Nutrien Agar sebanyak 5 ml, ditambahkan 0,02 ml suspensi bakteri dituang diatas permukaan media yang telah membeku sehingga membentuk lapisan yang homogen sebagai lapisan atas (seed layer).
c.       Pencadang dimasukkan secara aseptis kedalam cawan petri dengan jarak 2-3 cm dari pinggir cawan petri.
d.      Lalu masing-masing suspensi sampel krim dimasukkan kedalam pencadang sebanyak 0,2 ml, diinkubasi pada suhu 37 ­oC selama 24 jam. Daerah hambatan yang terbentuk diukur dengan mistar geser. Perlakukan ini dilakukan sebanyak 3 kali dan diambil rata-ratanya.
E.   Pengamatan dan Pengukuran Diameter Hambatan
                Pengamatan dan pengukuran diameter hambatan dilakukan setelah massa inkubasi 1 x 24 jam pada suhu 3637oC dengan menggunakan mistar geser (mitutoyo).
F.   Pengolahan dan analisis data
                   Data yang diperoleh dari pengukuran diameter hambatan di  tabulasi kemudian dirata-ratakan lalu di analisis menggunakan persamaan regresi linear.
Rumus persamaan Regresi : y = a + bx
Keterangan : y = Serapan
                              X = Konsentrasi
                            a = intersef
                      b = kemiringan





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
                                                                                                                                                  
A.      Hasil penelitian
Hasil penelitian yang diperoleh untuk Uji Efektivitas Pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit.  adalah sebagai berikut :
Hasil pengukuran diameter hambatan terhadap bakteri penyebab infeksi kulit diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 2.            Hasil pengukuran Uji Efektivitas Pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab  Infeksi Kulit.        
Sampel
Sediaan krim
Rata-rata Diameter Zona Hambatan (mm)
1 %
1,5%
2,5%
A1
A2
A3
5.77
5.97
5.02
8.02
8.92
8.07
11.57
11.42
11.67
Jumlah (∑)
16.76
25.01
34.66
Rata-rata
5,59
8.33
11.55
B1
B2
B3
9,50
9,54
9,56
10,35
10,38
10,40
11,95
12,15
12,57
Jumlah (∑)
28.6
31.13
36.67
Rata-rata
9.53
10,38
12.22
C1
C2
C3
9,15
9,18
9,29
9,25
9,56
9,82
10,58
10,64
10,83
Jumlah (∑)
27.61
28.63
32.05
Rata-rata
9.20
9.54
10.68
Kontrol
0
0
0



B.      Pembahasan
Penelitian ini menggunakan sediaan krim terstandarisasi yang beredar  di kota Makassar, kemudian sampel krim tersebut dibuat pengenceran  masing-masing dengan konsentrasi 1%, 1,5%, 2,5dan untuk formula kontrol di buat tanpa sampel sediaan krim kemudian dilakukan pengujian efektifitas pengawet terhadap bakteri penyebab infeksi kulit.
Sediaan sediaan krim terstandarisasi dievaluasi dengan pengujian aktivitas pengawet antimikroba dimana bakteri uji yang digunakan dalam penelitian ini yaitu bakteri penyebab infeksi kulit.
Pengujian daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi agar berlapis. Sebelum dilakukan pengujian daya hambat terlebih dahulu bakteri diinokulasi pada Nutrien Agar (NA) miring dalam tabung reaksi untuk meremajakan kultur bakteri murni agar prtumbuhan dalam media uji optimal. Bakteri yang diremajakan disuspensikan ke dalam NaCl 0,9% b/v steril. Hal ini bertujuan  untuk  menjaga kondisi  fisiologis bakteri uji.
Dari hasil penelitian yang diperoleh bahwa sediaan krim terstandarisasi  yang beredar di kota makassar menghasilkan rata-rata zona hambatan terbesar (optimal) terhadap bakteri Penyebab infeksi kulit, diameter zona hambatan terbesar setelah masa inkubasi 1x24 jam ditunjukkan oleh sediaan krim A dengan konsentrasi 1,5% yaitu sebesar 5,59 mm, konsentrasi 1,5 % dengan diameter 8,33 mm dan konsentrasi 2,5% dengan diameter 11.55 mm. Diameter hambatan sediaan krim B konsentrasi 1,5% yaitu sebesar 9,53 mm, konsentrasi 1,5 % dengan diameter 10,38 mm dan konsentrasi 2,5% dengan diameter 12,22 mm, sedangkan diameter hambatan sediaan krim C konsentrasi 1,5% yaitu sebesar 9,28 mm, konsentrasi 1,5 % dengan diameter 9,54 mm dan konsentrasi 2,5% dengan diameter 10,68 mm, sementara untuk kontrol negatif tidak didapatkan zona hambatan.
Hasil perhitungan persamaan regresi linear sediaan krim A pada konsentrasi 2,5% yaitu sebesar 11.71 mm, selanjutnya diikuti oleh konsentrasi 1,5 % dengan diameter 7.85  mm dan konsentrasi 1 % dengan diameter 5.91 mm. Untuk sediaan krim B pada konsentrasi 2,5% yaitu sebesar 12.05 mm, konsentrasi 1,5 % dengan diameter 5.30 mm dan konsentrasi 1 % dengan diameter 9,74 mm, Untuk sediaan krim C pada konsentrasi 2,5% yaitu sebesar 9.33 mm, konsentrasi 1,5 % dengan diameter 8,32 mm dan konsentrasi 1 % dengan diameter 7,82 mm, sedangkan kontrol negatif 0. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka semakin besar daya hambat yang terjadi.
Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa ke tiga sediaan krim dengan masing-masing konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2,5% mengandung pengawet yang efektif menghambat pertumbuhan bakteri Penyebab infeksi kulit. Lebih besarnya diameter zona hambatan pada konsentrasi 2,5% dapat disebabkan perbedaan kandungan pengawet yang terikat pada setiap konsentrasi krim dimana semakin tinggi konsentrasi sediaan krim yang digunakan maka semakin banyak pula kandungan pengawet. Hal ini sesuai dengan pernyataan Barnet (1992) yang menyatakan bahwa perbedaan besarnya daerah hambatan untuk masing-masing konsentrasi dapat disebabkan karena perbedaan besarnya kandungan zat aktif.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.      Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa :
1.   Sediaan krim A, B dan C dengan konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2,5% memiliki kandungan pengawet yang dapat  menghambat  pertumbuhan bakteri penyebab infeksi kulit.
2.   Dari hasil perhitungan persamaan regresi linear sediaan krim A pada konsentrasi 2,5% (11,71mm), 1,5% (7,85mm) dan 1% (5,91mm), sediaan krim B pada konsentrasi  2,5% (12,05mm), 1,5% (5,30mm) dan 1% (9,74mm), dan sediaan krim C pada konsentrasi 2,5% (9,33mm), 1,5% (8,32mm) dan 1% (7,82mm). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka semakin besar daya hambat yang terjadi.
3.   Sediaan krim yang memilki diameter zona hambatan paling besar adalah sediaan krim B pada konsentrasi 2,5% yaitu 12,05mm, dan ini menunjukkan bahwa sediaan krim B memilki kandungan pengawet yang lebih besar dibandingkan dengan sediaan krim A dan C.


B.      Saran
Untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai uji efektivitas sediaan krim berdasar dengan kandungan yang lain yang terdapat dlam sediaan krim yang beredar  di Kota makassar dengan pengujian terhadap bakteri uji yang lain.




DAFTAR PUSTAKA



Analy. J. 2001,” Uji Efektivitas Pengawet (Preservative Effectiveness Test
/ PET)”. PT Indo Kordsa Tbk.

Ansel HC 1995. “Introduction to pharmaceutical dosage forms”. Georgia: Lea and Febiger.

BPOM RI 2008, “Daftar Bahan Pengawet Yang Diizinkan Digunakan Dalam Kosmetik”, Peraturan Kepala Badan POM Republik Indonesia Nomor : HK.00.05.42.1018 Tentang Bahan Kosmetik.

Cross S, Robert M. 2008, “Transdermal drug delivery” (Internet) Cited Nov 28. Available from: www.chemelab.ucsd.edu/hydrogel/index.html.

Departemen kesehatan RI. 1979, “Farmakope Indonesia edisi III”, departemen kesehatan RI, Jakarta.

Djuanda, A, 2007,” Ilmu penyakit kulit dan kelamin”. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Djide N, 2008. “ Dasar-Dasar Mikrobiuologi Farmasi”. Universitas Hasanuddin : Makassar.

Eldhieya. 2011 “ Semua Tentang Garnierblogspot.com/2011/08/semua-tentang-produk-garnier.html

Lachman,1994 “ Teori dan praktek farmasi industry ” , edisi ketiga. Universitas Indonesia - press. Jakarta .

Risco, M. N, Gobel. R.B, 1991, Metode Instrumental dalam Mikrobiologi Umum, Fakultas MIPA UNHAS, Makassar.

Rosenbach.2008.Staphylococcusepidermis,http://wikipedia.org/wiki/staphylococcus_epidermis.

Ratukosmetik , 2010.viva white clean mask refreshnercom/wp-site/facial-skincare/face-mask/viva-white-clean- mask- refreshner.


Sharma S. 2008 “Topical drug delivery system” : A review. Pharmaceut. Rev.


Raya Sukabumi . Indonesia

Strober BE, Washenik K, Shupack JL. 2008, “Principles of topical therapy. In”: Fitzpatrick TB, Eisen AZ, Wolff K, Freedberg IM, Austen K, eds. Dermatology in general medicine. 7th ed. New York.

Sefran, 2012, “serba serbikuliah.blogspot.com /2012/03 /prinsip-pengawetan-bahan-dan-produk.html.

lampiran
Gambar 2. Skema kerja Uji Efektivitas Pengawet Pada Sediaan Krim          Terstandarisasi Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit.                  


Lampiran 1. Hasil perhitungan persamaan Regresi Linier Uji Efektivitas
                    Pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap
                    Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit.

Perhitungan regresi Sampel sediaan krim A
Perlakuan
x
y
x2
y2
xy
1
1
5,59
1
31.25
5.59
2
1.5
8.33
2.25
69.39
12.49
3
2.5
11.55
6.25
133.40
28.88
Jumlah
5
25.47
9.5
234.04
46.96

Persamaan Garis Regresi y = a + bx
Dimana :          Y = Diameter zona hambatan rata-rata (mm)
                         X = Konsentrasi (%)
a = Intersep (Konstanta / Potongan pada sumbu vertikal (x)
      oleh garis regresi)
b = Slope / Kemiringan ( hubungan antara sumbu x dan sumbu
      y)
n = Jumlah data
Berdasarkan rumus maka :

Lampiran 2. Hasil pengukuran diameter hambatan Uji Efektivitas  pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap                          Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit. Pada inkubasi 24  jam dengan persamaan regresi linier. 

Hasil Garis Regresi Linier Sampel A

Formula
Sumbu x
(Konsentrasi Sediaan (%) b/v
Sumbu y
(Diameter Zona Hambatan)
Kontrol
1
2
3
0
1
1.5
2.5
0
5.59
8.33
11.55

Berdasarkan rumus :  y = a + b x
                                                   y = 2.047 + 3.866x
Untuk kontrol, maka Y = 0
Untuk sediaan A1 (1%) maka Y            = a + bx
                                                                                = 2.047 + 3.866(1)
                                                                                = 2.047 + 3.866
                                                                                = 5.91
Untuk sediaan A2 (1,5%) maka Y         = a +bx
                                                                                = 2.047 + 3.866(1.5)
                                                                                = 2.047 + 5.799
                                                                                = 7.85
Untuk sediaan A3 (2,5%) maka Y         = a + bx
                                                                                = 2.047 + 3.866 (2.5)
                                                                                = 2.047 + 9.665
                                                                                = 11.71

Gambar 3. : Histogram Diameter Hambatan Uji Efektivitas  pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap                          Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit. Pada inkubasi 24  jam dengan persamaan regresi linier.


Keterangan :              A      = Formula kontrol
                                    B      = Konsentrasi 1%
                                    C     = Konsentrasi 1.5%
                                    D     = Konsentrasi 2.5%

 Gambar 4.  Kurva  Diameter Uji Efektivitas  pengawet Pada Sediaan Krim                     Terstandarisasi Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab                       Infeksi Kulit. Pada inkubasi 24 jam dengan                 persamaan regresi linier. 



Keterangan :              1      = kontrol
                                    2      = Konsentrasi 1%
                                    3      = Konsentrasi 1.5%
                                    4      = Konsentrasi 2.5%


Lampiran 3. Hasil perhitungan persamaan Regresi Linier Uji Efektivitas Pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit.            

Perhitungan regresi Sampel B

Perlakuan
x
Y
x2
y2
xy
1
1
9.53
1
90.82
9.53
2
1.5
10,38
2.25
107.74
15.57
3
2.5
12.22
6.25
149.33
30.55
Jumlah
5
32.31
9.5
347.89
55.65

Persamaan Garis Regresi y = a + bx
Dimana :          Y = Diameter zona hambatan rata-rata (mm)
                         X = Konsentrasi (%)
a = Intersep (Konstanta / Potongan pada sumbu vertikal (x)
      oleh garis regresi)
b = Slope / Kemiringan ( hubungan antara sumbu x dan sumbu
      y)
n = Jumlah data
        =
a      =    8.2
Sehingga persamaan garis regresi linier :   y = a + bx
                                                                                                                    Y = 8.2 + 1.542x
Lampiran 4. Hasil pengukuran diameter hambatan Uji Efektivitas  pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap                          Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit. Pada inkubasi 24  jam dengan persamaan regresi linier. 

Hasil Garis Regresi Linier Sampel B

Formula
Sumbu x
(Konsentrasi Sediaan (%) b/v
Sumbu y
(Diameter Zona Hambatan)
Kontrol
1
2
3
0
1
1.5
2.5
0
9.53
10,38
12.22

Berdasarkan rumus :  y = a + b x
                                                   y = 8.2 + 1.542x
Untuk kontrol, maka Y = 0
Untuk sediaan B1 (1%) maka Y            = a + bx
                                                                                = 8.2 + 1.542x(1)
                                                                                = 8.2 + 1.542
                                                                                = 9.74
Untuk sediaan B2 (1,5%) maka Y         = a +bx
                                                                                = 28.2 + 1.542(1.5)
                                                                                = 2.993 + 2.313
                                                                                = 5.30
Untuk sediaan B3 (2,5%) maka Y         = a + bx
                                                                                = 8.2 + 1.542(2.5)
                                                                                = 8.2 + 3.855
                                                                                = 12.05

Gambar 5. : Histogram Diameter Hambatan Uji Efektivitas  pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap                          Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit. Pada inkubasi 24  jam dengan persamaan regresi linier. 


Keterangan :              A      = Formula kontrol
                                    B      = Konsentrasi 1%
                                    C     = Konsentrasi 1.5%
                                    D     = Konsentrasi 2.5%

 Gambar 6.  Kurva  Diameter Uji Efektivitas  pengawet Pada Sediaan Krim 
                   Terstandarisasi Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab                     Infeksi Kulit. Pada inkubasi 24 jam dengan                 persamaan  regresi  linier. 

 Keterangan :              1      = Kontrol
                                    2      = Konsentrasi 1%
                                    3      = Konsentrasi 1.5%
                                    4      = Konsentrasi 2.5%

Lampiran 5. Hasil perhitungan persamaan Regresi Linier Uji Efektivitas Pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit.            

Perhitungan regresi Sampel C

Perlakuan
x
Y
x2
y2
xy
1
1
9.20
1
84.64
9.20
2
1.5
9.54
2.25
91.01
14.31
3
2.5
10.68
6.25
114.06
26.7
Jumlah
5
29.42
9.5
289.71
50.21

Persamaan Garis Regresi y = a + bx
Dimana :          Y = Diameter zona hambatan rata-rata (mm)
                         X = Konsentrasi (%)
a = Intersep (Konstanta / Potongan pada sumbu vertikal (x)
      oleh garis regresi)
b = Slope / Kemiringan ( hubungan antara sumbu x dan sumbu
      y)
n = Jumlah data


Lampiran 6. Hasil pengukuran diameter hambatan Uji Efektivitas  pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap                          Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit. Pada inkubasi 24  jam dengan persamaan regresi linier. 

Hasil Garis Regresi Linier Sampel C

Formula
Sumbu x
(Konsentrasi Sediaan (%) b/v
Sumbu y
(Diameter Zona Hambatan)
Kontrol
1
2
3
0
1
1.5
2.5
0
9.20
9.54
10.68


Berdasarkan rumus :  y = a + b x
                                                   y = 6.81+ 1.008x
Untuk kontrol, maka Y = 0
Untuk sediaan  C1 (1%) maka Y          = a + bx
                                                                                = 6.81+ 1.008x(1)
                                                                                = 6.81+ 1.008                                                                                                                          = 7.82
Untuk sediaan C2 (1,5%) maka Y        = a +bx
                                                                                = 6.81+ 1.008x (1.5)
                                                                                = 6.81+ 1.512
                                                                                = 8.32
Untuk sediaan C3 (2,5%) maka Y = a + bx
                                                                                = 6.81+ 1.008x(2.5)
                                                                                = 6.81+ 2.52
                                                                                = 9.33

Gambar 7. : Histogram Diameter Hambatan Uji Efektivitas  pengawet Pada Sediaan Krim Terstandarisasi Terhadap                          Pertumbuhan Bakteri Penyebab Infeksi Kulit. Pada inkubasi 24  jam dengan persamaan regresi linier. 


Keterangan :              A      = Kontrol
                                    B      = Konsentrasi 1%
                                    C     = Konsentrasi 1.5%
                                    D     = Konsentrasi 2.5%

Gambar 8.  Kurva  Diameter Uji Efektivitas  pengawet Pada Sediaan Krim 
                   Terstandarisasi Terhadap Pertumbuhan Bakteri Penyebab                     Infeksi Kulit. Pada inkubasi 24 jam dengan                 persamaan regresi linier. 


Keterangan :              1      = Kontrol
                                    2      = Konsentrasi 1%
                                    3      = Konsentrasi 1.5%
                                    4      = Konsentrasi 2.5%

Gambar 6. Sampel Sediaan krim


Keterangan :
                                A = sediaan krim Garnier
                                B = sediaan Krim Viva white
                                C = sediaan krim sakura white cream





Tidak ada komentar:

Posting Komentar