Jumat, 27 September 2013

Metode dan identifikikasi sediaan fitokimia

metode-metode fitokimia
Pada tahun – tahun terakhir ini fitokimia atau kimia tumbuhan telah berkembang menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri, berada di antara kimia organic bahan alam dan biokimia tumbuhan, serta berkaitan erat dengan keduanya. Bidang perhatiaanya ialah aneka ragam senyawa organic yang dibentuk dan ditimbun oleh tumbuhan yaotu mengenai struktur kimianya, biosintesisnya, perubahan serta metabolismrnya, penyebarannya secara alamiah dan fungus biologisnya.
Pada semua pekerjaan tersebut diperlukan metode pemisahan, pemurnian dan identifikasi kandungan yang terdapat dalam tumbuhan yang sifatnya berbeda – beda dan yang jumlahnya banyak itu. Jadi, kemajuan pengetahuan kita mengenal fitokimia berkaitan langsung dengan keberhasilan memanfaatkan teknik yang sudah dikenal dan meneruskan pengembangan teknik baru untuk memecahkan masalah yang menonjol bila timbul. Salah satu tantangan fitokimia berkaitan langsung dengan keberhasilan memanfaatkan teknik yang sudah dikenal dan meneruskan pengembangan teknik baru untuk memecahkan masalah yang menonjol bila timbul. Salah satu tantangan fitokimia ialah melaksanakan semua pekerjaan dengan menggunakan bahan bahan yang makin lama makin sedikit. Sering pemecahan masalah biologi, misalnya pengaturan tumbuh tanaman, biokimia antaraaksi tumbuhan-hewan atau pemahaman asal fosil tumbuhan, bergantung pada identifikasi sejumlah struktur kimia yang rumit yang mungkin saja hanya tersedia beberapa mikrogram untuk ditelaah.
I.             
      1.             
  §   Metode pemisahan
Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan terutama dilakukan dengan menggunakan salah satu dari empat teknik kromatografi atau gabungan teknik tersebut. Keempat teknik kromatografi itu adalah: kromatografi kertas (KKt), kromatografi lapis tipis (KLT), kromatografi gas cair (KGC) dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT).
Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat kelarutan dan keatsirian senyawa yang akan dipisah. KKt dapat digunakan terutama bagi kandungan tunbuhan yang mudah larut dalam air, yaitukarbohidrat, asam amino, basa asam nukleat, asam organic dan senyawa fenolat.
KLT merupakan metode pilihan untuk pemisahan semua kandungan yang larut dalam lipid, yaitu lipid, steroid, karotenoid, kuinon sederhana dan klorofil. Sebaliknya, teknik ketiga, yaitu KGC, penggunaan utamanya ialah pada pemisahan senyawa atsiri yaitu asam lemak, mono dan seskuiterpen , hidrokarbon dan senyawa belerang. Tetapi, keatsirian kandungan tumbuhan yang bertitik didih tinggi dapat diperbesar dengan mengubahnya menjadi ester atau eter trimetil sitil sehingga hanya ada sedikit golongan yang sana sekali tidak cocok untuk dipisahkan dengan cara KGC.
Cara lain, yaitu KCKT, dapat memisahkan kandungan yang keatsiriannya kecil. KCKT adalah suatu metode yang menggabungkan keefisienen kolom dan kecepatan analisis.
Disamping itu, perlu dikemukakan bahwa ada tumpang tindih pada penggunaan teknik di atas. Sering gabungan KKt dan KLT, KLT dan KCKT, atau KLT dan KGC mungkin merupakan pendekatan terbaik untuk memisahkan golongan senyawa tumbuhan tertentu.
  • Kromatografi kertas
Keuntungan utama KKt ialah kemudahan dan kesederhanaannya pada pelaksanaan pemisahan yaitu hanya pada lembaran kertas saring yang berlaku sebagai medium pemisahan dan juga sebagai penyangga.
  • Kromatografi lapis tipis
Bila KLT dibandingkan dengan KKt, kelebihan khas KLT ialah keserbangunan, kecepatan dan kepekaannya. Keserbangunan KLT disebabkan oleh kenyataan bahwa di samping selulosa, sejumlah penjerap yang berbeda – beda pada pelat kaca atau penyangga lain dan digunakan untuk kromatografi. Satu kekurangan KLT yang asli ialah kerja pe nyaputan pelat kaca dengan penjerap. Kerja ini kemudian agak diringankan dengan adanya penyaput otomatis.
  • Kromatografi gas cair
Prinsip KGC tidaklah rumit dari prosedur kromatografi yang lain.KGC mempunyai empat bagian utama;
1.      kolom berupa pipa kecil yang panjang, biasanya terbuat dari logam yang berbentuk gulungan untu menghemat ruang.
2.      pemanas disediakan untuk memanaskan kolom secara meningkat, mulai dari 50 sampai 350 C dengan laju beku.
3.      aliran gas terdiri atas gas pembawa yang lembam seperti nitrogen dan argon.
4.      gawai pendeteksi diperlukan untuk mengukur senyawa ketika senyawa itu dialirkan kedalam kolom.
  • Kromatografi cair kinerja tinggi
KCKT disamakan dengan KGC dalam hal kepekaan dan kemampuannya menghasilkan data kualitatif dan kuantitatif dengan sekali kerja saja. Perbedaanya ialah fase diam yang terikat pada polimer terdapat dalam kolom baja tahan karat yang bergaris tengah kecil, dan fase gerak cair mengalir akibat tekana yang besar.
I.             
      1.             
  §   Metode identifikasi
Pada identifikasi suatu kandungan tumbuhan, setelah kandungan itu diisolasi dan dimurnukan, pertama – tama harus kita dahulu golongannya, kemudian barulah ditentukan jenis senyawa dalam golongan tersebut.sebelum itu, senyawa harus membentuk bercak tunggal dalam beberapa system KLT atau KKt.
Golongan senyawa biasanya dapat ditentukan dengan dengan uji warna penentuan kelarutan, bilangan Rf dan cirri spectrum UV. Uji biokimia dapat bermanfaat juga: adanya glukosida dapat dipastikan dengan hidrolisis yang menggunakan β-glukosidase, adanya glukosida minyak amandel dengan hidrolisis yang menggunakan mirosinase dan sebagainya. Untuk senyawa pengatur tumbuh, uji biologi merupakan bagian identifikasi yang penting.
Identifikasi lengkap dalam golongan senyawa bergantung pada pengukuran sifat atu ciri lain, ang kemudian dibandingkan dengan data dalam pustaka . sifat yang diukur termasuk titik leleh (untuk senyawa padat), titik didih (untuk cairan), putaran optic (untuk senyawa aktif optic), dan Rf atau RRt (pada kondisi baku). Tetapi data mengenai senyawa tunbuhan yang sama ialah cirri spektrumnya, termasuk pengukuran spectrum Uv, inframerah (IM), resonansi yang perrnah diketahui dapat diidentifikasi berdasarkan data di atas. Untuk pemisahan akhir harus dilakukan pembandingan langsung dengan senyawa autentik (bila ada). Bila senyawa autentik tidak ada, pembandingan seksama dengan data pustaka sudah cukup untuk identifikasi. Bila menjumpai senyawa baru, senyawa baru, pemastian identitas sebaiknya dengan penguraian kimia atau dengan mensistesis senyawa tersebut.
Identifikasi senyawa tumbuhan baru dengan kristalografi sinar-X sekarang sudah menjadi rutin dan dapat dilakukan bila senyawa itu cukup jumlahnya dan berbentuk kristal. Cara ini terutama sangat bermanfaat pada kasus terpenoid runit karena dengan cara ini dalam sekali kerja saja kita dapat menentukan sekaligus struktur kimia dan stereokimia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar